7 Upacara Adat di Sulawesi Tengah yang Menjaga Kearifan Lokal
Terletak di bagian tengah Pulau Sulawesi, Sulawesi Tengah dikenal sebagai wilayah yang kaya akan tradisi adat yang bernilai tinggi. Ibu kotanya, Palu, memiliki lima lanskap utama: pegunungan, sungai, laut, lembah, dan teluk. Dengan keberagaman alam ini, Sulawesi Tengah juga terkenal sebagai penghasil kelapa, cengkeh, dan pala terbaik di Indonesia.
Selama kunjungan ke provinsi ini, kamu bisa menikmati berbagai aktivitas menarik, termasuk menyaksikan langsung berbagai upacara adat Sulawesi Tengah. Berikut adalah beberapa upacara adat khas Sulawesi Tengah yang patut kamu ketahui.
Beberapa Upacara Adat di Sulawesi Tengah:
1. Malabot Tumpe
Upacara Malabot Tumpe adalah ritual syukur masyarakat Banggai, Sulawesi Tengah, atas panen telur burung maleo. Tradisi ini telah ada sejak masa Kerajaan Banggai di bawah pimpinan Raja Mandapar. Burung maleo, spesies endemik Sulawesi Tengah, umumnya hidup di pantai, khususnya di daerah Bangkiang, Kecamatan Batui.
Upacara dimulai dengan pengumpulan telur oleh perangkat adat, yang kemudian dibawa ke rumah ketua adat untuk prosesi doa dan dzikir. Malabot Tumpe biasanya dilaksanakan setiap tahun, terutama saat musim pertama burung maleo bertelur, sekitar bulan September. Namun, populasi telur burung maleo yang menurun membuat jumlah telur yang dipersembahkan semakin terbatas.
2. Nompudu Valaa Mpuse
Nompudu Valaa Mpuse adalah upacara pemotongan tali pusar bayi yang baru lahir, dilakukan oleh masyarakat Palu dengan bantuan dukun bersalin atau sando mpoana. Tradisi ini bertujuan memisahkan tali pusar dan tembuni, yang dianggap sebagai dua elemen penting.
Upacara dimulai dengan menutup telinga bayi menggunakan koin, kemudian tali pusar dipotong dengan sembilu bambu di atas uang logam. Ujung tali pusar diikat menggunakan benang atau serat sabut kelapa muda. Tembuni disimpan dalam belanga tanah selama seminggu dengan garam dan asam, dibungkus kain kuning, serta dihiasi bawang dan kunyit untuk memastikan tembuni tidak mengganggu bayi.
3. Upacara Ratompo
Ratompo adalah upacara pengikiran gigi bagi gadis bangsawan setelah prosesi Mancumani. Tradisi ini biasanya dilakukan pada pagi hari di tempat yang tenang, dipimpin oleh dukun topetompo dengan asistensi topepalielu. Selama prosesi, hanya gadis yang diupacarakan dan dua dukun yang diizinkan hadir.
Sebelum pengikiran gigi, gadis mengenakan baju dari kulit kayu, haili, dan sarung mbesa, serta diberikan ketan putih dan telur sebagai simbol kesiapan mengikuti upacara. Setelah selesai, gadis tersebut berkumur dengan air hangat, dan setelah darah berkurang, ia dipulangkan ke keluarganya.
4. Upacara Rakeho
Rakeho adalah ritual kedewasaan laki-laki Suku Kulawi, Sulawesi Tengah, di mana gigi depan diratakan dengan gusi. Selain sebagai bentuk keselamatan, upacara ini bertujuan mencegah hal-hal yang dapat mengganggu keharmonisan pernikahan.
Pelaksanaan Rakeho tidak terikat waktu tertentu, tetapi biasanya dilakukan setelah panen, saat orang tua memiliki kemampuan untuk menyelenggarakannya. Prosesi dipimpin oleh topekeho, dukun ahli pengikiran gigi, dan dilakukan di tempat terpencil yang tenang.
5. Baliya Jinja
Baliya Jinja adalah ritual penyembuhan non-medis yang telah lama dilakukan oleh masyarakat Suku Kaili. Sebelum adanya fasilitas medis modern, ritual ini bertujuan mendapatkan petunjuk dari roh nenek moyang untuk penyembuhan penyakit.
Dipimpin oleh dukun Tina Nu Baliya, yang mengenakan pakaian khas, upacara ini diiringi alunan seruling, tambur, dan gong. Syair pujian kepada Yang Maha Kuasa dibacakan, memohon pengusiran gangguan roh jahat. Ritual Baliya Jinja mencakup prosesi larung sesaji ke laut atau pegunungan sebagai simbol pembuangan penyakit.
6. Lebaran Mandura
Seminggu setelah Idulfitri, warga Kampung Baru di Palu, Sulawesi Tengah, merayakan tradisi unik bernama Lebaran Mandura. Tradisi yang dijalankan oleh masyarakat adat Kaili ini melibatkan pawai mandura—makanan khas dari beras ketan—dan pawai obor. Perayaan ini menjadi bagian penting dari kehidupan religius mereka setelah 1 Syawal.
Ketan Tiga Warna dan Makna Mandura
Mandura, makanan khas Kaili yang telah ada sejak abad ke-19, dibuat dari tiga jenis beras ketan yang dibungkus daun pisang. Setiap warna memiliki makna: merah melambangkan keberanian dan pengampunan, putih melambangkan kesucian dan keikhlasan, dan hitam melambangkan keadilan. Menurut Husein, kata "mandura" juga merupakan akronim dari "man" (manusia), "du" (dunia), dan "ra" (fitrah), yang bermakna manusia kembali ke fitrah setelah puasa.
Ketua Panitia Lebaran Mandura, Akbar S H, menyamakan tradisi ini dengan Lebaran Ketupat yang dirayakan di berbagai wilayah Indonesia.
7. Lebaran Iwwadh
Tradisi ini rutin digelar setiap tahun pada hari ke-22 Idulfitri, kali ini berlangsung di Kelurahan Baru, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Masyarakat mengunjungi rumah-rumah warga keturunan Arab sambil melantunkan puji-pujian dan shalawat nabi, yang dilanjutkan dengan tausiah agama. Tradisi ini selaras dengan makna "Iwwadh," yang berarti kembali, mencerminkan nilai saling mengunjungi dan memberi salam di setiap rumah.
Perayaan Lebaran Iwwadh berakhir di Nadoli, rumah salah satu keluarga keturunan Arab pertama di Kota Palu, dan menarik antusiasme warga sekitar yang datang untuk menyaksikan tradisi tahunan ini.
Itulah informasi seputar Pakaian Adat Sulawesi Tengah. Apakah Anda semakin tertarik berkunjung ke Palu? Ayo luangkan waktu liburan Anda untuk mengunjungi Palu.
Disamping itu, jika Anda sedang berada di Palu, jangan lupa untuk berkunjung ke Asuransi Sinar Cabang Palu. Yuk kunjungi Asuransi Sinar Mas Cabang Palu pada halaman berikut:
1. Asuransi Sinar Mas Kantor Pemasaran Palu
2. Asuransi Sinar Mas Marketing Poin Luwuk
Perkuat rasa cintamu pada Indonesia dengan menambah wawasan budaya nusantara di saluran whatsapp ini.
Sumber:
- https://www.traveloka.com/id-id/explore/destination/mengenal-upacara- adat-sulawesi-tengah-acc/331372.
- "Mengenal Lebaran Mandura di Palu, Tradisi Unik untuk Mempererat Tali Persaudaraan", https://regional.kompas.com/read/2024/04/20/161700278/mengenal- lebaran-mandura-di-palu-tradisi-unik-untuk-mempererat-tali?page=all.
- https://www.antaranews.com/berita/4054350/ratusan-warga-keturunan- arab-di-kota-palu-gelar-iwwadh.