September 18, 2026

Primata Berhidung Panjang, Salah Satu Hewan Paling Ikonik di Indonesia

Kalimantan tidak hanya dikenal dengan hutan hujan tropisnya, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai satwa khas yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain. Salah satunya adalah bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Pulau Kalimantan yang hidup di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Keberadaannya mudah dikenali dari hidungnya yang panjang dan besar, terutama pada bekantan jantan.

Di Indonesia, bekantan umumnya ditemukan di kawasan lahan basah, seperti hutan mangrove, hutan rawa, dan area di sekitar sungai. Habitat tersebut bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga menyediakan sumber makanan dan lingkungan yang mendukung kehidupan bekantan. Karena itu, keberadaan bekantan sangat berkaitan erat dengan kondisi habitat alaminya.


Mengapa Hidung Bekantan Bisa Begitu Besar?

Hidung merupakan ciri paling mencolok dari bekantan, tetapi ukurannya ternyata bukan sekadar keunikan penampilan. Bekantan jantan memiliki hidung yang jauh lebih besar dibandingkan betina. Penelitian mengenai perilaku bekantan menunjukkan bahwa hidung tersebut berkaitan dengan komunikasi. Suara yang dihasilkan oleh bekantan jantan dapat diperkuat oleh struktur hidung dan rongga di sekitarnya, sehingga membantu menghasilkan panggilan yang terdengar lebih dalam. Hidung juga menjadi salah satu ciri yang membedakan jantan dan betina dalam kelompoknya.

Selain hidungnya, bekantan memiliki tubuh dengan warna yang cukup khas. Bagian punggungnya umumnya berwarna cokelat kemerahan, sedangkan bagian bawah tubuh dan anggota geraknya berwarna putih keabu-abuan. Ekornya juga panjang, hampir menyamai panjang tubuhnya. Bekantan pada dasarnya merupakan primata pemakan tumbuhan, meskipun sesekali juga memakan beberapa jenis serangga. Ketika air sungai atau rawa sedang surut, bekantan bahkan dapat turun ke tanah untuk mencari serangga.


Mengapa Bekantan Tinggal di Dekat Sungai dan Mangrove?

Bekantan sangat berkaitan dengan ekosistem lahan basah. Mereka dapat ditemukan di hutan mangrove, hutan riparian atau hutan di sepanjang sungai, serta hutan rawa. Penelitian IPB di Sungai Sekonyer, Taman Nasional Tanjung Puting, menunjukkan bahwa persebaran bekantan berkaitan dengan habitat tertentu seperti hutan bakau, rawa, dan hutan riparian. Berbagai tumbuhan yang tumbuh di habitat tersebut juga menjadi sumber makanan bagi bekantan.

Menariknya, keberadaan bekantan tidak selalu terbatas di kawasan hutan yang sepenuhnya alami. Penelitian di beberapa wilayah Kalimantan menemukan bekantan pada habitat yang berdekatan dengan area perkebunan atau lahan yang telah dimanfaatkan manusia. Namun, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan persoalan penting dalam konservasi. Ketika habitat alami semakin terfragmentasi, kelompok bekantan dapat terpisah menjadi populasi-populasi kecil yang lebih rentan terhadap kepunahan lokal.


Menjaga Habitat Berarti Menjaga Bekantan

Keunikan bekantan tidak hanya terletak pada hidungnya yang khas. Satwa ini merupakan bagian dari ekosistem lahan basah Kalimantan dan memiliki ketergantungan yang cukup kuat terhadap hutan di sekitar sungai, rawa, dan mangrove. Ketika habitat tersebut berkurang atau terpecah, ruang hidup bekantan ikut menyempit dan kelompok-kelompoknya dapat menjadi semakin terisolasi.

Karena itu, menjaga hutan mangrove, rawa, dan kawasan riparian menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan populasi bekantan. Keberadaan satwa ini mengingatkan kita bahwa kekayaan alam Kalimantan tidak hanya berada di hutan hujan yang lebat, tetapi juga di ekosistem lahan basah yang mungkin terlihat sederhana, namun memiliki peran besar bagi kehidupan berbagai satwa.


Sumber
Jurnal Media Konservasi