Produk Syariah
Share :

Seiring dengan perkembangan Asuransi Syariah banyak orang membicarakan tentang Produk ,  Akad dalam Asuransi Syariah. Namun, masih banyak istilah-istilah yang asing, khusus nya di Akad bahkan dalam industri asuransi sendiri.

Untuk itu, mari kita bersama-sama mengenal produk, akad yang digunakan dalam operasional Asuransi Syariah.

Sebelumnya, pengertian Asuransi Syariah sendiri adalah usaha kerjasama untuk saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang dalam menghadapi terjadinya musibah atau bencana melalui perjanjian yang disepakati bersama. Perjanjian yang digunakan merupakan akad takafuli (tolong-menolong) bukan akad tadabuli (jual-beli). Jadi akad yang digunakan dalam Asuransi Syariah bersifat tolong menolong (ta'awun) dengan menggunakan prinsip dasar Tabarru' dan dalam pengelolaan dana (investasi) menggunakan prinsip Mudharabah melalui instrumen investasi syariah.

Akad takafuli yaitu perjanjian sekelompok orang yang disebut peserta yang secara timbal balik saling menanggung atau menanggung bersama risiko diantara peserta atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

Konsep Asuransi Syariah adalah konsep tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Ini berarti dalam Asuransi Syariah semua peserta merupakan satu keluarga besar akan saling melindungi dan bersama-sama akan menanggung risiko keuangan dari musibah yang mungkin terjadi. Konsep Asuransi Syariah ini dilakukan melalui mekanisme perjanjian (akad).

Akad dalam asuransi syariah harus sesuai dengan syariah Islam yakni Akad yang tidak mengandung Gharar (ketidak pastian), Maysir (perjudian), Riba (bunga), barang haram dan maksiat yang dilarang dalam akad-akad keuangan islami.

Dalam kehidupan sehari-hari terdapat bermacam-macam akad seperti :

  • Akad Ijarah (sewa)
  • Akad Syirkah (kerjasama)
  • Akad Wakalah (sebagai wakil)
  • Akad Mudharabah (bagi hasil), dan seterusnya

Namun, dalam konsep Asuransi Syariah, Akad yang dipergunakan dapat dirangkum sbb :

  1. Akad Tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial yang menyangkut profit transaction dengan tujuan mencari keuntungan.
  2. Akad Tabarru adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial. Dalam Akad Tabarru harus disebutkan:
    • Kesepakatan para peserta untuk saling tolong-menolong (ta'awun)
    • Hak dan kewajiban peserta (baik individu maupun kelompok) dan perusahaan;
    • Cara dan waktu pembayaran premi dan klaim;
    • Ketentuan mengenai boleh atau tidaknya kontribusi ditarik kembali oleh peserta dalam hal                        terjadi pembatalan oleh peserta.
    • Ketentuan mengenai alternatif dan persentase pembagian Surplus Underwriting

Disini akan diperlihatkan juga perbedaan antara Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional :

No. Prinsip Asuransi Konvensional Asuransi Syariah
1 Konsep Perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak Penanggung mengikatkan diri kepada Tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penrgantian kepada Tertanggung Sekumpulan orang yang saling mebantu, saling menjamin, dan bekerja sama, dengan cara masing-masing mengeluarkan dana tabarru'
2 Dewan Pengawas Syariah(DPS) Tidak ada , sehingga dalam banyak prakteknya bertentangan dengan kaidah-kaidah syara' Ada, yang berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan operasional perusahaan agar terbebas dari praktek-praktek muamalah yang bertentangan dengan prinsip syariah.
3 Akad Akad jual beli (akad mu'awadah, akad idz'aan, akad gharar, dan akad mulzim) Akad tabarru dan akad tijarah (mudharabah, wakalah, wadiah, syirkah, dsb.
4 Jaminan / Risk (Risiko) Transfer of Risk, dimana terjadi transfer resiko dari Tertanggung kepada Penanggung Sharing of Risk, dimana terjadi proses saling menanggung antara satu peserta dengan peserta lainnya (ta'awun)
5 Pengelolaan Dana Tidak ada pemisahan dana,  yang berakibat pada terjadinya dana hangus Ada pemisahan dana yaitu dana pengelola dan peserta (tabarru')  sehingga tidak mengenal dana hangus
6 Kepemilikkan Dana Dana yang terkumpul dari premi peserta seluruhnya menjadi milik perusahaan. Dana yang terkumpul dari peserta dalam bentuk iuran atau kontribusi, merupakan milik peserta, asuransi syariah hanya sebagai pemegang amanah dalam mengelola dana tsb.
7 Sumber Pembayaran Klaim Sumber biaya klaim adalah rekening perusahaan, sebagai konsekwensi penanggung terhadap tertanggung. Sumber biaya klaim diperoleh dari rekening tabarru' dimana peserta saling menanggung.
8 Profit Keuntungan yang diperoleh dari Surplus Underwrting, komisi reasuransi, dan hasil investasi adalah keuntungan milik perusahaan Keuntungan yg diperoleh bukan seluruhnya milik perusahaan tetapi dilakukan Bagi Hasil dengan peserta

Pada prinsipnya cara mendesain produk-produk asuransi syariah tidak terlampau jauh berbeda dengan , cara mendesain produk-produk konvensional. Walaupun demikian, perbedaan yang ada diantara keduanya dapat mentukan halal – haram nya suatu produk , misalnya ketika menentukan Kontribusi Premi, Cadangan Premi, di asuransi konvensional didasarkan pada perhitungan bunga (secara tehnik), sementara pada Asuransi Syariah mendasarkan pada Konsep Bagi Hasil dan Scheme Bagi Hasil. Dan juga perbedaan dalam menentukan Biaya-Biaya Asuransi, untuk di Asuransi Syariah tidak dibebankan kepada dana peserta, tetapi diambil dari perusahaan.

 

Scheme Bagi Hasil – Asuransi Sinar Mas

Prinsip Bagi Hasil
Apabila di akhir periode terdapat Surplus Underwriting ataupun Profit maka pengelola berhak mendapatkan prosentase dari surplus tsb.

Metode Bagi Hasil :

  1. Memberikan surplus operasional aecara penuh kepada pemegang polis tanpa memperhatikan apakah apakah si Pemegang Polis tersebut telah menerima atau belum mendapatkan klaim, atau
  2. Hanya memberikan surplus operasional kepada pemegang polis yang belum pernah menerima klaim ganti rugi, atau
  3. Membagi surplus operasional kepada pemegang polis yang belum pernah menerima klaim ganti rugi, atau
  4. Membagi surplus operasional kepada pemegang polis dengan mempertimbangkan besarnya kontribusi premi yang telah di bayarkan, atau
  5. Surplus operasional dibagi antara peserta asuransi dengan perusahaan asuransi, atau
  6. Pembagian surplus operasional dengan metode lain,

Karena itu jenis produk di Asuransi Syariah ;

  1. Asuransi Kebakaran
  2. Asuransi Kendaraan Bermotor , baik Roda 4 dan Roda 2
  3. Asuransi Uang (cash in safe & cash in transit)
  4. Asuransi Pengangkutan
  5. Asuransi Rangka Kapal
  6. Asuransi Alat Berat
  7. Asuransi Engineering
  8. Asuransi Kecelakaan Diri