Sejarah Film Di Indonesia

Bicara tentang film tentu banyak hal yang menarik dan terlintas di memori kita, mulai dari judul, para pemerannya sampai kepada genre serta alur cerita filmnya tersebut. Film selain menjadi sebuah hiburan sekaligus seni, juga secara tidak langsung menjadi bagian dari sebuah budaya dan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Lalu, apa pengertian film dan bagaimana sejarahnya, khususnya perfilman di Indonesia. Secara sederhana, film merupakan gambar bergerak yang direkam dan disimpan dalam media penyimpanan (berbagai bentuk sesuai perkembangan jaman) untuk kemudian ditonton kembali. Hal ini juga berkaitan dengan konsep fotografi yang kemudian dikembangkan oleh beberapa tokoh dunia seperti Eadweard Muybridge , Thomas Alfa Edison, serta Lumiere bersaudara yang pada akhirnya menjadi pencetus hari kelahiran sinematografi internasional pada tanggal 28 Desember 1895 berkat film dokumenternya yang berjudul Workers Leaving The Lumiere's Factory (film pertama yang diputar di dunia).

Lantas, bagaimana sejarah serta perkembangan perfilman di Indonesia. Memang tidak ada literatur pasti perihal kapan pertama kali film masuk ke Indonesia, dan ada beberapa sumber yang menginformasikan waktu yang berbeda-beda. Namun berdasarkan informasi pada sebuah harian Bintang Betawi pada tahun 1900 yang terdapat iklan bioskop di halamannya, yang menunjukkan bahwa pada masa itu film sudah masuk di Indonesia. Diperkirakan dibawa masuk oleh dampak perdagangan dengan para pedagang dari China dan film pada saat itu dikenal atau disebut dengan nama Gambar Hidoep. Kemudian baru pada tahun 1926, dua orang Belanda yaitu L. Heuveldorp dan G. Kruger memproduksi film pertama yang dibuat di Indonesia berjudul Loetoeng Kasarung yaitu film yang mengangkat cerita dari legenda Sunda. Lalu diikuti dengan berbagai film lainnya seperti Eulis Atjih, Atna de Vischer, dll.

Seiring perkembangan yang pesat dari masa ke masa, dengan mulai banyaknya produksi film serta bioskop yang didirikan, maka pada tahun 1955 para tokoh di bidang perfilman nasional yang dipelopori oleh Djamaludin Malik mencetuskan pembentukan Festifal Film Indonesia (FFI). Pembentukan FFI bertujuan agar dapat lebih mempopulerkan film Indonesia serta memberikan penghargaan bagi insan kreatif yang berkecimpung di dunia sinematografi. Dan film pertama yang mendapatkan penghargaan terbaik di FFI edisi pertama adalah film karya Usmar Ismail yang berjudul Jam Malam, yang bercerita tentang kritik sosial mengenai mantan pejuang pasca kemerdekaan Indonesia.

Setelah mengalami kelesuan dan kemunduran serta persaingan dengan film asing serta mulai munculnya sinetron televisi tanpa bermaksud mendiskreditkan nya, faktanya adalah perfilman indonesia masih memunculkan daya tarik tersendiri dari berbagai peminatnya. Dan memang terdapat juga beberapa film berkualitas yang mengangkat nama Indonesia di kancah festival film, baik skala nasional maupun internasional. Mulai dari alur cerita, genre film, sampai kepada para pemerannya yang mendapatkan apresiasi dari perfilman internasional. Hal ini tentunya menghadirkan rasa bangga bahwa banyak insan kreatif dari Indonesia di bidang perfilman yang patut dan layak kita tunggu hasil karya karya filmnya.

Kembali ke daftar berita >